Teater Nusantara

Diposkan oleh Dody Saduyasa Pada Jumat, 18 Oktober 2013 0 Komentar

Hai... sobat sekalian kali ini saya share Teater Nusantara, kemungkinan ini menyangkut pada tugas di sekolah SMP, simak penjelasannya di bawah ini:

     Pertunjukan seni Teater Nusantara muncul di dalam masyarakat karena dua alasan, yaitu sebagai media hiburan dan media pemujaan.

  1. Media Hiburan
               Awal mulanya teater tradisional diselenggarakan secara sederhana dan apa adanya atau amatiran. Mereka memerankan sendiri tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita. Teater tradisional umumnya muncul karena kebutuhan masyarakat akan hiburan dan kebutuhan untuk mengekspresikan rasa keindahan secara bersama-sama yang khas. Dikatakan khas karena apa yang menurut mereka indah belum tentu dianggap indah oleh komunitas masyarakat yang lain. Biasanya yang lebih diutamakan adalah terjadinya gayeng di antara mereka sendiri.

     2. Media Pemujaan
             Kesenian yang difungsikan sebagai media pemujaan biasanya sangat khas, sesuai dengan karakter tradisi dan kebudayaan komunitas masyarakat yang memunculkan bentuk kesenian tersebut. Pertunjukan teater tradisional sebagai media untuk melakukan pemujaan dan berkomunisasi dengan sesuatu yang dianggap gaib, misalnya dewa, roh nenek moyang, kekuatan alam, atau danyang-danyang. Mereka melakukan pertunjukan sebagai bentuk penghormatan kepada sesuatu yang melindungi dan memberi kekuatan kepada mereka.
             Pertunjukan tersebut akhirnya menjadi ritual dan kebiasaan pada masyarakat tersebut. Misalnya, untuk menghormati Dewi Sri, mereka melakukan pertunjukan untuk meminta keberkahan pada tanah dan hasil panen mereka. Contoh lainnya adalah peristiwa sedekah bumi atau bersih desa. Salah satu pertunjukan yang di selenggarakan adalah wayang kulit. Awalnya, pertunjukan wayang kulit digunakan sebagai media pemujaan, tetapi kesenian ini akhirnya berkembang menjadi media syiar (Ketika Islam masuk) dan sekarang lebih banyak ditemui sebagai seni hiburang massa.

Di Indonesia, teater tradisi memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai sarana upacara, sarana hiburan, sarana penyambung sejarah, dan sarana komunikasi

  • Sarana Upacara
Tetater yang berfungsi sebagai sarana upacara adalah teater yang pementasannya dipersembahkan untuk para leluhur dan digunakan dalam upacara-upacara keagamaan yang bersifat sakral, magis, dan religius. Contoh : Terater Sumatra dan Kalimantan.
  • Sarana Hiburan
Fungsi yang paling terasa dalam pementasan teater, yaitu mampu memberikan suguhan hiburan kepada masyarakat sebagai penikmat. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat penonton teater awalnya adalah rakyat kecil yang kesehariannya bekerja diladang/sawah. Dengan adanya pertunjukan teater, secara otomatis kerinduan masyarakat akan dunia hiburan akan terobati. Berikut contoh teater yang berfungsi sebagai sarana hiburan.
  1. Wayang orang dari Yogyakarta dan Surakarta yang berfungsi untuk menghibur para tamu yang berkunjung ke Keraton.
  2. Wayang Golek dari Jawa Barat yang berfungsi untuk menghibur masyarakat di acara pernikahan atau khitanan maupun acara tertentu.
  3. Teater gambuh dari Bali yang dapat menghibur orang yang sedang melakukan persiapan melakukan acara keagamaan.
  4. Ludruk dari Jawa Timur yang dapat menghibur dengan banyolan (Lawakan) dan penampilan para pemainnya.
  5. Lenong dari betawi dengan celotehan ala betawi mampu menghibur warga.

Kriteria menilai sebuah karya seni teater sebagai berikut:
  • Tema
Tema cerita adalah pokok pikiran atau ide dasar seseorang. Tema dapat diperoleh dengan melihat, mendengar, merasakan, dan berimanijasi terhadap keadaan alam sekitar.


  • Tokoh dan Karakter

Karakter atau watak dalam suatu cerita adalah pemberian sifat, baik lahir maupun batin kepada seseorang pelaku atau tokoh yang ada pada ceriat. Tiap-tiap pemain harus memerankan watak yang berlainan (jahat, sombong, sopan, sabar, pintar, bodoh, malas, rajin) dan harus menjiwai dan menghayati dengan serius perannya. Penjiwaan ini sangat perlu untuk mendukung suksesnya pementasan teater.
  • Alur cerita
Alur cerita adalah keseluruhan jalinan peristiwa yang membentuk satu kesatuan yang disebut cerita.
Suatu cerita dibagi lima bagian/tahap, antara lain:
  1. Pengantar (tahap perkenalan)
  2. Penampilan masalah (tahap pertikaian)
  3. Puncak ketegangan (tahap klimaks krisis)
  4. Ketegangan menurun (tahap peleraian), dan
  5. Penyelesaian (tahap penyelesaian)
  • Dialog
Dialog adalah percakapan yang dilakukan lebih dari satu orang. Dialog ini dilakukan oleh para pelaku drama yang bersangkutan. Melalui dialog antarpelaku itulah penonton dapat memahami cerita drama yang dilihatnya.
  • Latar atau Setting
Latar atau Setting adalah penempatan ruang dan waktu, termasuk latar belakang pentas. Gunanya untuk mewujudkan penggambaran yang mencerminkan tempat terjadinya cerita yang sedang dipentaskan. Diusahakan penyajian cerita dalam pentas atau panggung tersebut sanggup mencerminkan tempat dan waktu cerita ini terjadi.
  • Interprestasi Kehidupan
Interprestasi Kehidupan maksudnya pementasan tersebut seolah-olah terjadi dengan sesungguhnya dalam kehidupan masyarakat meskipun hanya merupakan tiruan kehidupan. Cerita dalam pentas yang disajikan dalam pentas harus sanggup menghidangkan gambaran kehidupan sebagaimana yang dimaksudkan oleh penulisnya atau pengarangnya.


Karya teater merupakan karya seni dan kesenian selalu bersangkutan dengan moral. Pesan moral dapat diketahui melalui amanat dalam suatu cerita yang dipertunjukan. Pesan moral di sini adalah nilai yang terkait dengan akal budi, etika, dan sopan santun. Setiap karya seni memang mengandung nilai moral. Pesan moral yang ada dalam karya teater dapat mengubah perilaku penontonnya. Kalau nilai moralnya tinggi dapat membentuk perilaku penonton yang baik dan positif, tetapi kalau nilai moralnya rendah dapat membentuk penonton memiliki perilaku yang kurang baik. Karya teater tradisi memiliki nilai moral yang sangat tinggi yang pasti baik dan positif bagi penontonnya. Adapun pesan moral dapat dilihat dari ciri-ciri penampilan dari suatu pertunjukan teater sebagai berikut.

  • Anonim
Pencipta lakon dan cerita tidak pernah dikenal atau tidak diketahui namanya
  • Improvisasi
Seniman yang lebih banyak mengandalkan kecakapan alamiah, baik dialog ataupun akting yang sedapat mungkin menyatu dengan penonton hingga penonton masuk kedalam situasi yang telah dibuat oleh sang seniman tersebut.
  • Pentas
Pentasnya terletak pada sebuah arena berbentuk "Telapak Kuda". Bentuk ini memungkinkan pertunjukan dapat ditonton dari segala arah agar dapat dinikmati secara bersama-sama dan beramai-ramai. Dengan begitu, penonton bukan saja merasa terhibur, akan tetapi menyatu bersama cerita dalam pertunjukan tersebut.
  • Humor dan Heroik
Mementingkan lawak jenaka, disamping memperlihatkan kesatriaan.
  • Simbolis Karikatural
Penampilan cerita cukup sederhana, ringan, dan mudah dipahami oleh siapa saja. Tokoh-tokoh manusia digambarkan menurut penjiwaannya, bukan kadar bentuk realis.
  • Derma Keliling
Ongkos pertunjukan tidak pernah diperoleh dari hasil penjualan karcis masuk. Penonton menyaksikan pergelaran atau penampilan secara gratis. Ongkos pertunjukan didapatkan dari derma penonton secara sukarela.

Sekian penjelasan tentang Teater Nusantara dari saya, semoga bermanfaat.

Terimakasih atas kunjungan dan telah membaca Teater Nusantara .

Jika ingin menyebar luaskan artikel ini, sebarkan kepada rekan kamu melalui :

Jangan lupa tinggalkan komentar ya...!!!


Posting Komentar

-Saran dan Kritik sangat saya harapkan
-Sopan dalam berkomentar
-Jangan berkomentar yang berisi link aktif
-Berkomentarlah sesuai dengan topik yang dibicarakan
-Cukup itu saja. Maaf jika melanggar, saya tidak tampilkan komentarnya.

Popular Post