Seni Rupa Terapan Nusantara

Diposkan oleh Dody Saduyasa Pada Jumat, 18 Oktober 2013 2 Komentar

Hai.. teman-teman sekarang saya posting tentang Seni Rupa Nusantara, Teman-teman pasti ingin tahu mari simak penjelasannya di bawah ini:

       Karya seni rupa Nusantara adalah karya seni rupa yang berwujud dua atau tiga dimensi yang memiliki fungsi tertentu dalam kehidupan sehari-hari yang terdapat di wilayah Nusantara. Keberadaan seni klasik di Indonesia pada masa sejarah tampak jelas terlihat pada bangunan rumah-rumah berukir para pendatang yang masuk ke Indonesia yang sebelumnya berkediaman di Indocina. Sejak adanya hibungan Indonesia dengan India, lahirlah seni Hindu-Indonesia, terutama di jawa dan Bali. Peninggalan-peninggalannya hingga kini masih ada, antara lain Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Penataran.

      Bentuk karya seni rupa terapan tersebut, diantaranya terdapat pada bentuk Transportasi tradisional, Senjata tradisional, Rumah adat, dan Seni kriya.

  • Transportasi tradisional
Transportasi yang masih mempertahankan bentuk dan ciri khas tradisionalnya masih dapat dijumpai di wilayah Nusantara. MisalnyaPerahu, Kereta kuda, Pedati, dan Becak.
  1. Perahu yang digunakan di Nusantara memiliki bentuk dan ragam hias yang beragam. Keragaman tersebut sebagai akibat perbedaan latar budaya, pengaruh budaya asing, daya kreasi pembuatannya, dan ketersediaan sumber daya alamnya. Semua pola hiasnya menggunakan warna, sebagiasn lagi paduan warna dan pahatan. Sebagian besar perahu tersebut bermotif garis dan bidang, baik bidang geometrik maupun bidang organik, sebagian lagi bermotif hewan, tumbuhan, stilasi, pilin berganda, serta motif huruf. Posisi hiasan ada yang di seluruh bagian kapal, ada yang separuh bagian kapal, atau salah satu bagian kapal saja. Misalnya, perahu penangkap ikan jenis compreng di Jawa Barat yang penempatan hiasannya di seluruh bagian kapal.
  2. Andong, pedati, dan becak di setiap daerah memiliki pola khas yang sudah menjadi tradisi dalam menghias andongnya. Motif hiasan dokar di jawa, terutama di Jawa Timur cenderung memiliki ciri khas khusus yang ditempatkan di beberapa bagian. Warna hitam mendominasi seluruh bagian dokar dengan motif hiasan warna cerah. Selain Andong, alat tranportasi konvensional yang masih banyak dimanfaatkan adalah Pedati. Kendaraan pengankut bertenaga sapi ini biasanya untuk mengangkut barang dengan beban berat. Jenis tranportasi tradisional lainnya adalah becak. Becak dapat dijumpai di jawa, Sulawesi, dan Sumatra
  • Senjata Tradisional
 Beragam senjata tradisional saat ini lebih sering digunakan sebagai peralatan untuk bekerja. Selain itu, juga digunakan sebagai perlengkapan acara ritual, perlengkapan pakaian adat, pertunjukan seni tradisional, dan sebagai benda hias.
  1. Pedang, badik, dan pisau tradisional hampir semua jenis senjata menggunakan motif ular, bunga dan lipan. Hiasan berupa jumbai-jumbai menyerupai rambut terdapat pada sebagian senjata mandau. Pada sarungnya yang terbuat dari bahan kayu masih diberi hiasan manik-manik dan bulu burung. Senjata khas suku dayak Kalimantan ini memang penuh hiasan yang estetik.
  2. Keris adalah senjata tradisional berujung lancip dan bermata dua yang merupakan karya asli bangsa Indonesia yang adiluhung. Termasuk dalam jenis ini adalah senjata kujang dari Jawa Barat. Ragam hiasyang digunakan bervariasi di setiap daerah. Secara umum motif hiasan terdapat di setiap bagian keris. Permukaan bilah keris umumnya terdapat tekstur yang membentuk alur tertentu yang disebut pamor. Warnanya keperak-perakan karena terbuat dari baja putih. Para empu zaman dahulu membuatnya dari bahan batu meteor yang sangat langka.
  • Rumah Adat
Rumah adat di Indonesia mempunyai bentuk yang sangat beragam. Jika melihat bangunan rumah adat di Indonesia  secara  keseluruhan  kita akan dapat  membedakan  bangunan  rumah  adat  tersebut  berdasarkan atapnya, ragam  hiasnya, bentuk, dan  bahan  bakunya.Misalnya,  rumah  Gadang  di  Padang  bentuknya  memanjang ke  samping  dan  rumah  adat Minahasa bentuknya memanjang ke belakang.
  • Seni Kriya 

Seni kriya dapat dikelompokkan menjadi seni kriya pahat, seni kriya tekstil, seni kriya anyaman, dan seni kriya keramik.
  1. Seni kriya pahat  Jenis, bentuk, bahan, dan teknik dalam seni pahat sangat beragam, dari jenis ukir, patung, dan aneka kerajinan lainnya. Seni pahat selain menggunakan bahan kayu, juga menggunakan batu, aneka logam, emas, serta tulang dan kulit hewan.
  2. Seni kriya Tekstil Keragaman karya seni tekstil bisa dilihat dari jenis, teknik, ragam hias, dan bahan yang digunakan. Jenis kriya tekstil di Nusantara bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu karya batik dan karya tenun:
 a. Karya batik
Corak kain batik setiap daerah beraneka ragam.Corak batik jawa umumnya bergaya naturalis dengan sentuhan warna-warna yang beragam. Corak batik pesisir umumnya menunjukkan adanya pengaruh asing.
Pekalongan merupakan penghasil batik yang terkenal dan termasuk dalam golongan batik pesisir. Daerah batik bercorak pesisir yang lain adalah Madura, Tuban, dan Cirebon. Batik daerah ini didominasi perpaduan warna yang kontras, seperti merah, kuning, cokelat, dan putih. Sedangkan Batik Solo, Yogyakarta, dan sekitarnya umumnya menggunakan warna-warna redup, seperti cokelat, biru, hitam, dan hijau.
Proses pembuatan kain batik dapat dilakukan dengan teknik tulis, teknik cap, dan teknik lukis. Teknik batik tulis merupakan teknik yang paling banyak diterapkan di Indonesia. Selain di Jawa, batik juga terdapat di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Bali.
b. Karya tenun
Indonesia adalah salah satu negara penghasil tenun terbesar terutama dalam hal keragaman corak hiasannya. Ada dua jenis tenun, yaitu tenun ikat dan tenun songket. Yang membedakan keduanya adalah pada teknik pembuatan dan bahan yang digunakan. Pada songket ada tambahan benang emas, perak, atau benang sutra. Daerah yang terkenal sebagai penghasil tenun ikat, antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sulawesi, Bali, Sulawesi Tengah, Toraja (Sulawesi Selatan), Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, NTT, Flores, dan Maluku. Sedangkan penghasil songket yang terkenal, antara lain Aceh, Sumatra Barat, Riau, Palembang, Sumatra Utara, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Nusa Tenggara, dan Maluku. Ragam hias pada kain tenun memiliki corak motif geometrik, flora, dan fauna mendominasi ragam hias karya tekstil Nusantara. Kain tenun kebanyakan dipakai untuk selendang, sarung, kebaya, dan ikat kepala seperti pada pakaian adat.

     3. Kriya anyaman Bahannya kebanyakan dari kulit bambu, batang rotan, dan daun pandan. Bahan-bahan alam lainnya adalah pelepah pisang, enceng gondok, dan serat kayu. Teknik pembentukan anyaman adalah dengan memanfaatkan jalur lungsi (vertikal), jalur pakan (horizontal), dan jalur gulungan diagonal). Pembentukan pola motif anyaman diperoleh dengan cara memanfaatkan perbedaan warna.

    4. Kriya Keramik Bahan dasarnya  adalah tanah liat. Benda keramik dibentuk dengan teknik cetak, lempeng, pijit, dan pilin. Setelah dibentuk, kemudian diberi hiasan. Jika sudah melalui proses pengeringan, dibakar dengan suhu tertentu.
       Keramik diproduksi untuk benda-benda hias atau benda pakai dengan keragaman variasi bentuk, misalnya guci, pot bunga, vas bunga, dan sebagainya. Daerah-daerah penghasil keramik tersebar luas di Nusantara, antara lain di Yogyakarta, Malang, Cirebon, dan Purwokerto.
Seperti kita ketahui setiap daerah di Nusantara memiliki potensi sumber daya alam yang berbeda-beda, sangat beragam dan banyak seperti kayu , rotan , pandan, kulit binatang, tanah liat, bambu, dan lainnya
  
       Karena bentuk dari bahan bahan berbeda maka teknik yang digunakan pun berbeda.
Sebagai berikut :
  •  Teknik Pahat
Teknik pahat, yaitu mengurangi bahan dengan menggunakan alat pahat, seperti patung, relief, dan ukir
  • Teknik Butsir
Teknik butsir, yaitu mengurang dan menambah bahan sehingga menjadi bentuk yang diinginkan, misalnya kerajinan keramik atau gerabah
  • Teknik Lukis
Teknik lukis, yaitu membuat karya seni dengan cara menggoreskan kuas atau peralatan lainnya pada bahan kertas, kain, kaca, dan kulit. Misalnya, lukisan diatas kain kanvas, lukisan pada kain batik, dan lukisan kaca.
  • Teknik Cor
Teknik Cor, yaitu membuat karya seni dengan membuat alat cetakan, kemudian dituangkan adonan berupa semen, gips, dan sebagainya sehingga menghasilkan bentuk yang diinginkan. Misalnya membuat patung.
  • Teknik Las
Teknik las, yaitu membuat karya seni dengan cara menggabungkan bahan satu ke bahan lain sehingga membentuk karya seni yang unik. Misalnya, membuat patung kontemporer.
  • Teknik Kontruksi
Teknik kontruksi, yaitu menggabungkan bangunan yang satu ke bahan bangunan yang lain. Misalnya rumah, dan mesin.
  • Teknik Cetak
Teknik cetak, yaitu membuat karya seni dengan cara membuat cetakan terlebih dahulu. Misalnya, membuat karya seni keramik dan patung
  • Teknik Tempa
Teknik Tempa, yaitu membuat karya seni dengan cara ditempa (dibentuk) melalui proses pembentukan. Misalnya, membuat keris, kujang, dang benda-benda perhiasan.

Sekian tentang Seni Rupa Nusantara dari saya, semoga bermanfaat.



Terimakasih atas kunjungan dan telah membaca Seni Rupa Terapan Nusantara .

Jika ingin menyebar luaskan artikel ini, sebarkan kepada rekan kamu melalui :

Jangan lupa tinggalkan komentar ya...!!!


+ Komentar + 2 Komentar

November 11, 2013 11:50 AM

mantabh,,.. thanks artikelnya....

Terimakasih zhu cun lee atas Komentarnya pada artikel Seni Rupa Terapan Nusantara
November 11, 2013 2:04 PM

@zhu cun leeTrimakasih kembali atas kunjungannya...

Posting Komentar

-Saran dan Kritik sangat saya harapkan
-Sopan dalam berkomentar
-Jangan berkomentar yang berisi link aktif
-Berkomentarlah sesuai dengan topik yang dibicarakan
-Cukup itu saja. Maaf jika melanggar, saya tidak tampilkan komentarnya.

Popular Post